Minggu, 13 Januari 2013

Etika berdoa


Doa secara bahasa adalah memanggil, dari akar kata دَعَا يَدْعُوْ دُعَاءً  yang aaratinya memanggil menurut  istilah Ulama Usul Fiqih doa adalah mencari sesuatu atau memohon sesuatu dari orang yang lebih rendah kepada Dzat yang lebih tinggih.
Dan doa menurut Ulama Tashawuf adalah upaya untuk menghambankan diri kepada Allah SWT. dengan mengakui segala bentuk kelemahan, serta mengharap dan memohon Rahmat dan pertolongan kepada-Nya. sebagai wujud dari kepatuhan diri kepada Allah SWT. karena ada perinta Allah : berdoalah kalian semua kepada-Ku, niscaya Aku (akan) mengabulkannya untuk kalian”.  
Doa berarti memohon kepada Allah SWT. Dengan mengharapkan kebaikan-Nya agar yang kita kehendaki dapat dikabulkan-Nya. Dengna berdoa berarti kita membutuhkan pertolongan Allah SWT. karena kita yakin Allah maha kuasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya lagi maha pemurah.
Berdoa hukumnya wajib, walaupun tanpa berdoa rahmat dan pertolongan Allah SWT. juga akan turun. dilalah al-Amri dalam berdoa menunjukan dilalah wajib. artinya, dalam kondisi yang bagaimanapun, doa tetap diperintahkan Allah SWT. dan kita wajib menjalankannya, karena doa yang afdol doa yang dalam konteks menjalankan perintah, bukan doa dalam konteks meminta rizki meskipun hal ini tidak dilarang.  
Karena doa merupakan kewajiban, maka berdoa termasuk perbuatan yang dinalai ibadah menurut pandangan Agama, bahkan merupakan inti ibadah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam  Bukhori dan Imam Turmudzi , Rasulullah r . bersabda : اَلدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
Artinya : doa itu adalah otak (inti) ibadah. Sebab doa sendiri merupakan ibadah. Nabi SAW. juga menyatakan bahwa “Doa itu juga merupakan senjata orang mukmin dan tiang penyangga agama, serta menjadi nur langit dan bumi Allah”.
 Doa merupakan sala satu sarana menjalin hubungan langsung antara manusia sebagai mahkluk dengan Allah SWT. sebagai   penciptanya, karena itu, semakin banyak berdoa semakin dekat pula dengan Allah SWT, sebaliknya, jika kita tidak mau berdoa, maka semakin jauh dengan Allah SWT...................
 Islam mengajarka penganutnya agar tak bosan-bosanya memanjatkan doa kepada Allah karena Allah SWT. Dzat yang kaya yang tak bosan memberikan ni’mat-Nya mulai dari hal kecil seperti masuk wc keluar wc mau bercermin, keluar rumah, masuk rumah, setiap mau dan mengakhiri suatu pekerjaan dan yang lain-lainnya  sampai ke yang besar seperti meminta terjaganya Iman dan Islam, terjaga dari siksa api Neraka dan menjadikannya sebagi ahli Surga dll. Yang bayak diajarkan Nabi dan dimalkan oleh Salafus Salih.
Berdoa dapat dilakukan sendiri-sendiri atau secara berjamah yang dipimpin oleh seorang Imam. Apabila kamu mengikuti bacaan doa Imam maka kamu harus mengucapkan lafadz “amin” yang artinya” kabulkanlah permohonan kami” .
 Dalam berdoa syarat yang paling utama adalah ketulusan hati dan ke ikhlasan artinya kita berdoa tidak hanya mulut yang mengucapkannya, tetapi hati juga harus ingant kepada Allah.

Agar doa kita dikabulkan oleh Allah, seharusnya kita melakukan tata cara atau etika yang dimalkan oleh ulama-ulama terdahulu.
1.         Mencari cari waktu yang mulia seperti hari arafah (9 dzul hijjah) hari Jum’at, bulan Ramadan. waktu Sahur (malam hari) Allah berfirman :
وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ(١٨)
18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

2.         Mencari kesempatan pada keadaan yang mulia seperti ketika turunya hujan, antara Adzan dan Iqomah, menunaikan Sholat lima waktu, setelah selesai solat, ketika sujud dan lainya.
3.         Berdoa dengan menghadap kiblat disertai dengan mengangkat kedua tangan sampai kedua ketiaknya terlihat lalu setelah usai usapkan kedua tangannya ke wajahnya dipenghujung doa. Sayyidina Umar RA. Berkata, dari Nabi r
كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا مَدَّ يَدَيْهِ فِي اَلدُّعَاءِ, لَمْ يَرُدَّهُمَا, حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ - أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ
Artinya: Rasulullah Saw. Tatakala mengakat kedua tangan  diwaktu berdoa beliau tidak menurunkannya samapi mengusapkan kedua tangnnya ke wajah.
Dan yang terakhir tidak sekali-kali mengangkat matanya ke arah langit.
4.         Berdoa dengan suara rendah (sedang) antara bisik-bisik dan nyaring Allah SWT. berfirman :
قُلِ ادْعُوا اللَّه أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا (١١٠)
110. Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam berdoamu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".

5.    Tidak memksakan sajak (berbentuk seprerti puisi), yang paling utama menggunakan doa-doa yang sampai dari baginda Nabi r .  Nabi bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالسَّجَعَ فيِ الدُّعَاءِ بِحَسَبِ أَحَدِكُمْ أَنْ يَقُوْلَ اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرُبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرُبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ
Takutlah kalian doa berbentuk sajak, cukup seorang diantara kalian mengatakan ‘ya Allah aku meminta surga dan macam parkara yang mendekatkan padanya dari ucapan maupun perbuatan dan aku berlindung dari neraka dan macam perkara yang mendekatkan padanya dari ucapan maupun perbuatan’.

6.         Penuh ketundukan, kekhusu’an. Rasa harap dan rasa takut kepada Allah Swt.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ
الْمُعْتَدِينَ (٥٥)
55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[[1].

7.         Memantapkan (optimis) doa tersebut dan menyakini terkabulnya, Nabi r. bersabda :
إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ : اللهم إِغْفِرْ لِيْ إِنْ شِئْتَ إِرْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ ارْزُقْنِيْ إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمَ مَسْأَلَتَهُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ لَا مُكْرِهَ لَهُ
Ketika seseorang berdoa maka janganlah mengatakan “ ya Allah ampunilah aku jika kamu kehendaki, kasihanilah aku jika kamu kehendaki, berila aku rizqi jika kamu kehendaki mantapkanlah permintaanmu karena sesungguhnya Allah melakukan apa yang dikehendaki tidak ada yang memaksanya”.

8.     Bersungguh-sungguh dalam berdoa. dan mengulang-ulang sampai tiga kali
9.         Memulai dan mengakhiri doanya denga dzikir dan pujian kepada Allah SWT. serta Salawat kepada Nabi r.
10.     Bertaubat kepada Allah SWT. dan mengembalika hak-hak orang lain yang pernah di dzaliminya serta menghadap Allah SWT. dengan segenap jiwa.

11.     Ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
12.                        Hadirnya hati pada saat doa.
13.     Doa diwaktu senggang/ lapang     dan waktu sulit.
14.     Tidak meminta kecuali kepada Allah SWT semata.

15.     Mengakui dosa dan meminta ampunan darinya, mengakui ni’mat dan bersyukur pada Allah SWT. atas ni’mat itu.

16.     Tidak merasa bosan dalam berdoa namun tidak memaksakan agar segera terkabulnya doa
Dalam riwayat Imam Muslim  dari jalur sanad Abu Hurairah ditegaskan bahwa “Allah senantiasa mengabulkan permintaan seorang hamba, selama tidak berdoa dalam urusan dosa dan usaha memutus tali silaturrahim, serta tidak minta disegerakan. kemudian Rasul ditanya tentang “al-Isti’jal” (Minta dipercepat terkabul) lalu Nabi SAW. menjelasan: “Yakni orang yang selalu mengomel dan membual” aku telah bedoa berkali-kali, tetapi tidak juga dikabulkan, kemudian dia putus asa dalam berdoa
17.     Tidak berdoa yang membahayakan keluarga, harta, anak dan dirinya sendiri.
18.     Memerintahkan yang baik dan melarang yang mungkar
19.     Menjahui semua pebuatan ma’siat
20.     Makana. Minuman dan pakaiannya halal
Dari Abu Hurairah RA. beliau berkata: “Rasulullah Saw. bersabda:“Sesungguhnya Allah SWT. Dzat yang baik. dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang Mu’min seperti yang Dia perintahkan kepada para Rasul. Lalu Allah berfirman: “Wahai para Rasul! makanlah segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal yang saleh” dan firman-Nya lagi: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu.
Kemudian Rasulullah SWT. menerangkan: “Ada seorang laki-laki bepergian jauh, rambutnya kusut dan penuh debu, dia menengadahkan kedua tanggannya kelangit, seraya berdoa Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku. Padahal! makanan dan munumannya haram pakainnya haram, dikenyangkan dengan barang haram, maka bagaimana doanya bisa diterima?) Hr. Muslim
21.     isi doanya tidak ada unsur dosa dan memutuskan persaudaraan.
dalam suatu hadist riwayat Abu Sa’id al-Hudzri dinyatakan:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهِ إِسْمٌ وَلَاقَطِيْعَةً رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَي ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ يعجلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يُدَخِّرَهُ لَهُ وَإِمَّا أَنْ يكف عَنْهُ مِنَ السُّؤِ بِمِثْلِهَا.
Artinya: tidaklah soerang muslim yang berdoa (dengan suatu doa apapun bunyinya dan isi doanya) selama didalamnya tidak ada unsur dosa dan usaha memutus tali silaturrahim, maka Allah SWT. pasti akan memberi sala satu dari tiga hal yakni: Dipercepat terkabulnya, atau disimpan kelak diakhirat dan atau dia dibentengi dan dicegah untuk tidak lagi terjebak dalam lumpur perbuatan salah (dosa) semisalnya.
            .
22.     Memulai doanya untuk diri sendiri ketika mendoaka orang lain.
23.     Tawasul kepada Allah dengan Asma’ul husna dan sifat-sifat Allah yang tinggi atau dengan amal sholeh yang dilakukannya sendiri atau dengan doanya laki-laki sholeh yang hidup dan hadir.
24.     Wudu’ sebelum doa jika muda/mungkin.
25.     Tidak berlebihan dalam berdoa.

Imam Sahl Ibnu Abdullah al-Tusturi menyatkan bahwa syarat doa itu bisa terkabul ada tujuh syarat,. antara lain : Merendahkan hati (meminta itu harus menggunakan etika bahkan dengan cara merayu sekalipun jangan justru malah dengan membentak-bentak), kahof (takut kepada Allah SWT.) optimisme (raja’ tidak putus asa), terus menerus, khusyu’ untuk kepentingan umum dan didukung oleh makanan halal.
Sementara Ibu Atho’ menyatakan’ bahwa ada empat yang harus diperhatikan, agar doa seorang hamba diterima disisi Allah yaitu: Menjaga hati ketika sedang sendiri, menjaga lisan ditengah kehidupan masyarakat, menjaga mata dari melihat hal yang haram dan menjaga perut dari hal-hal yang haram.

Inilah sebab-sebab penting terkabulnya doa seseorang. Tidak kala pentingnya, kita juga sebaiknya mengetahui waktu-waktu mustajabah meskipun doa dianjurkan dimanapun kapanpun kondisi apapun tapi, ada waktu-waktu yang lebi kita perhatikan. Dibawah ini saya sebutkan waktu dan kondisi terkabulnya doa seseorang.



[1] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.

0 komentar:

Posting Komentar