Ilmu merupakan anugrah yang Allah berikan kepada hamba pilihannya, ilmu bisa
melambungkan seseorang pada puncak kejayaan dan juga dapat menenggelmakan
seseorang kejurang paling dalam, tinggal bagaimana kita mengunakannya apakah
untuk diamalkan dan diajarakan semata-mata karena Allah atau justru untuk
mengais harta dunia belaka, lebih lanjutnya mari kita simak uraian dibawah ini.
Ulama (orang yang berilmu) merupakan pewaris para Nabi untuk
terus memperjuangkan ajaran yang telah dibawa oleh para Nabi, telah ma’lum bagi
kita kenabian merupakan Derajat paling tinggi, tidak ada yang membandinginya. Sudah
barang pasti pewaris dari para Nabi lebih mulia dari yang lainnya. Berjuanglah para
pejuang ilmu pantang menyerah untuk menyebarkan ajaran yang dibawa Nabi-Nabi terdahulu,
kita harus bangga, Sebab disamping kita sebagai pewaris Nabi dalam firman-Nya
Allah menempatkan Derajat Ulul Ilmi pada urutan ketiga, belum lagi seisi langit
dan bumi memintakan ampunan untuk para pencari ilmu dan masih banyak lagi
kelebihan orang berilmu sebagaimana dijelaskan didalam al-Qur’an dan Hadist
Nabi diantaranya “Hanya para ulama dari hamba-hamba-Nya yang takut pada Allah”
“Dua pakerti yang tidak dimiliki orang munafiq pertama berakhlak baik dan kedua
paham ilmu agama.” Jelas!! kandungan hadist ini menunjukan dua hal sbagai sekat
perbedaan dengan orang munafik yang diantaranya adalah ilmu, “Manusia paling
utama adalah orang beriman yang berilmu jika dibutuhkan ia memberikan manfaat
jika tidak ia sudah mencukupi dirinya sendiri”.
“Iman itu seperti orang telanjang,
pakaiannya adalah taqwa dan hiasannya adalah malu.” dari hadist ini bisa
kita tarik satu kesimpulan, bahwa ilmu itu merupakan buah dari keimanan yang
dibalut lembutnya ketaqwaan dan dihiasi dengan rasa malu. “Dua macam orang
seandainya baik maka baik pula manusia dan jika ia buruk maka buruk pula
manusia, dia adalah pemimpin dan ahli Fiqih/fuqoha.” hadist ini menjelaskan
begitu pentingnya peran kedua macam orang ini dalam membangun dan membina suatu
tatanan masyarakat yang sejahtera lagi berakhlak baik, pasalnya kedua orang ini
menjadi tolak ukur baik dan tidaknya bagi suatu mansyarakat sekitar. “Keutamaan
orang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaanku dibanding seorang
laki-laki dari sahabatku yang paling rendah.” “keutamaan orang alim dibanding ahli ibadah seperti keunggulan bulan dimalam purnama
dengan bintang-bintang.” sangat jauh perbandingan antara keduanya karena ibadah
tanpa disertai ilmu sia-sia, bukanlah suatu ibadah kalau tidak didasari dengan
ilmu, meskipun secara keumuman itu adalah perbuatan yang bernilai ibadah. “Dihari
kiamat tiga macam orang yang bisa memberikan syafaat yaitu para Nabi, Ulama dan
Syuhada.” Perhatikan
hadist ini!! Allah menempatkan ulama
diurutan setelah para nabi sebelum syuhada. “Sahabat Ali RA. perna berkata pada
kamil: “ Hai Kamil ilmu itu lebih baik dari pada harta, ilmu bisa menjagamu
sedangkan harta malah sebaliknya kamu yang jaga, ilmu adalah hakim dan harta yang dihukumi, dengan
diinfaqkan, harta semakin berkurang sedangkan ilmu malah bertambah banyak”.
Paman Nabi Ibnu Abbas berkata:
“Suatu ketika Nabi Sulaiman bin Dawud diberi pilihan antara ilmu, harta atau
tahta, beliau memilih ilmu maka
diberilah sekalian harta dan tahta. Ibnu mubarok pernah ditanya, “siapakah
manusia itu?” “Ulama” jawab Ibnu
Mubarok “Siapakah raja itu?” “Orang
yang zuhud” jawabnya, terakhir “Siapakah orang yang hina?” “mereka yang memakan harta dunia atas nama
agama”. Ibnu Mubarak tidak menganggap orang yang tidak berilmu sebagai manusia karena ilmu adalah identitas yang membedakan
antara manusia dan hewan, sebab identitas manusia bisa di namakan manusia
karena ilmu begitu
juga kemulian seseorang
karena ilmu, bukanlah kemulian seseorang karena dia kuat karna ada yang lebih
kuat lagi yaitu onta bukan juga karena kita tahu dia besar karena gajah lebih
besar, bukan juga karena pemberani karena hawan buas melibihi dia dan bukan
karena banyak makannya sebab seekor sapi lebih besar perutnya, terakhir bukan
juga karena kuat berhubunga intim karena burung emprit jauh lebih kuat dari pada
manusia. Sekali lagi manusia diciptakan karena ilmu.
0 komentar:
Posting Komentar